Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah menjadi pengalaman yang berbeda bagi Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Untuk pertama kalinya sejak pensiun pada Oktober 2024, Jokowi melaksanakan salat Id tanpa kehadiran pejabat tinggi negara.
Tidak ada menteri, kepala lembaga negara, atau suasana protokoler yang ketat seperti yang biasa terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Ia hanya didampingi oleh ajudan dan Ibu Negara Iriana di Halaman Graha Saba Buana, Solo, pada hari Senin, 31 Maret 2025.
Momen ini menarik perhatian, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya, Jokowi selalu melaksanakan salat Id bersama para petinggi negara, baik di Masjid Istiqlal Jakarta maupun di lokasi lainnya.
Selain itu, Jokowi juga menegaskan bahwa ia tidak akan menghadiri open house di Istana Kepresidenan Jakarta, sebuah tradisi yang biasanya ia lakukan saat masih menjabat. Ia memilih untuk berkumpul dengan keluarga dan menikmati suasana lebaran di Solo tanpa adanya protokoler.
1. Salat Idulfitri di Solo, Bukan di Istiqlal Seperti Tahun Lalu
Jokowi dan Iriana tiba di Halaman Graha Saba Buana sekitar pukul 06.00 WIB. Keduanya tampil cocok di dalam balutan baju muslim putih. Tak lama berselang, salat Idulfitri di mulai terhadap pukul 06.15 WIB bersama dengan ratusan jemaah lainnya.
Jika dibandingkan bersama dengan tahun sebelumnya, moment ini jelas berbeda. Pada 2024, Jokowi tetap lakukan salat Id di Masjid Istiqlal, Jakarta, di temani oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden selagi itu, Ma’ruf Amin dan para menteri Kabinet Indonesia Maju. Saat itu, ia berada di saf terdepan, membuktikan posisinya sebagai kepala negara yang tetap mempunyai efek kuat di dalam pemerintahan.
Namun kini, setelah lengser, suasana salat Id Jokowi terasa lebih simple dan jauh dari hingar-bingar politik. Tidak tersedia saf khusus, tidak tersedia iring-iringan panjang, hanya keluarga dan ajudan yang mengiringi.
2. Tidak Hadiri Open House di Istana, Pilih Kumpul Keluarga
Setelah menunaikan salat Id, Jokowi memberitakan bahwa dirinya tidak dapat menghadiri open house di Istana Kepresidenan Jakarta. Ini jadi perubahan besar dari kebiasaan yang biasa di jalaninya sebagai Presiden.
“Enggak tersedia open house, (kumpul keluarga) Iya paling anak cucu,” ujar Jokowi singkat selagi di tanya awak media.
Keputusan ini menegaskan bahwa Jokowi kini lebih memilih menghabiskan moment Lebaran di dalam suasana khusus bersama dengan keluarga. Ia tampaknya menghendaki nikmati peran barunya sebagai mantan Presiden bersama dengan lebih santai, tanpa keterikatan agenda resmi negara.
3. Tidak Ada Pejabat Negara, Hanya Ajudan yang Mendampingi
Satu hal yang paling drastis dari moment salat Idulfitri Jokowi tahun ini adalah absennya pejabat tinggi negara. Tidak tersedia menteri, tidak tersedia kepala lembaga, tidak tersedia tokoh-tokoh politik nasional. Hanya ajudan yang setia mendampinginya, membuktikan betapa transisi dari kepala negara ke warga negara biasa terasa terasa di dalam aktivitas Jokowi.
Pada era jabatannya, Jokowidodo selamanya dikelilingi oleh para pejabat negara di dalam tiap-tiap peluang resmi, termasuk selagi beribadah. Namun, kali ini, ia keluar lebih sederhana, pertanda bahwa perannya di dalam pemerintahan sudah amat berakhir secara formal.
4. Momen Lebaran yang Menandai Transisi Jokowi dari Pemimpin ke Warga Biasa
Keputusan Jokowi untuk lakukan salat Id di Solo bersama dengan suasana yang lebih khusus jadi lambang peralihan statusnya dari seorang Presiden jadi warga negara biasa. Momen ini bisa jadi penanda bahwa Jokowi amat terlepas dari pusat kekuasaan dan nikmati kehidupan pasca-presidensinya tanpa terikat agenda kenegaraan.
Meski demikian, kehadiran Jokowi di Solo selamanya jadi sorotan publik. Banyak yang menantikan bagaimana langkah politiknya ke depan, mengingat perannya sebagai figur sentral di dalam dinamika politik nasional sepanjang satu dekade terakhir.